Rabu, 31 Agustus 2016

just an ordinary girl. Jangan dibaca!!!

Andai saja mudah bagiku untuk berterusterang. Andai saja ada banyak waktu untuk kita duduk dan berbicara. Andai saja kalian bisa mengerti tanpa harus aku bicara...pasti tak perlu lelah jariku ini beradu dengan papan ketik.

Sayangnya, terlalu sulit buatku untuk mengakuinya. Bahkan untuk sekedar mengatakan "suka atau tidak suka", "mau atau tidak mau", itu saja sangat sulit bagiku. Aku bukan orang yang pandai membuat kata-kata manis. Aku bahkan tak bisa memilah mana kata yang enak didengar atau kata yang mudah menyinggung orang lain.
Sangat ironi memang, tapi ya beginilah aku dengan segenap kebodohanku.

Aku sepertinya memang tak berguna karena aku tak bisa menjadi seperti mereka yang menjalani hidupnya dengan wajar-wajar saja. Aku tak bisa menjadi anak yang baik bagi orang tuaku. Dimana anak-anak lain sebayaku sudah mampu membahagiakan orang tua mereka, memenuhi hampir semua kebutuhannya, aku hanya bisa merepotkan saja.
Aku anak pertama dari dua bersaudara. Bapakku sudah meninggal. Usiaku sudah lebih dari seperempat abad. Aku punya suami dan seorang anak.
Wanita lain di luar sana, saat seusiaku, kebanyakan dari mereka pasti sudah mapan, punya karir bagus dan kehidupan yang luar biasa indah bersama keluarganya.
Setidaknya itu menurut pandanganku. Tapi entah kenapa, jalan hidup seperti ini yang harus aku alami. Disatu sisi, aku bahagia memiliki jalan hidup yang rock n roll seperti ini, tapi disisi lain, tetap saja aku ini bodoh dengan segala kekuranganku.

Adikku, adik perempuanku, rasanya aku tak pernah menyayanginya. Aku benci dia karna tak pernah mau mendengarkanku. Dia tak pernah menghormatiku sebagai kakaknya. Aku benar-benar membencinya. Mungkin aku iri karena dia punya kehidupan yang lebih baik dari aku. Mungkin juga dia seperti itu karna memang aku bukanlah sosok kakak yang baik, yang pantas dibanggakan dan dihormati. Kakak-kakak lain, saat mereka telah bekerja dan punya gaji, mereka pasti memberikan uang saku untuk adiknya. Membelikan barang-barang yang bagus, mengajaknya jalan-jalan dan mentraktir makan. Dan seingatku, aku tak pernah mampu untuk memberikan semua itu. Aku bahkan memintanya mengembalikan lima ribu rupiah yang dia pinjam untuk membeli jajanan.

Sekarang aku jadi bingung, orang macam apa aku ini sebenarnya? Bagaimana aku hidup selama ini? Seperti apa dulu orang tuaku membesarkan aku? Apa yang aku ketahui tentang dunia ini? Aku ini siapa? Bagaimana pandangan orang terhadapku? Bagaimana aku nanti akan mati? Apakah aku akan dikenang atau segera dilupakan oleh orang-orang saat aku sudah mati nanti? Bagaimana jika sebentar lagi aku benar-benar mati? Bagaimana dengan suami dan anakku? Apakah suamiku itu akan segera menemukan penggantiku? Lalu anakku? Aku hanya bisa berdoa agar dia selalu sehat dan bahagia. Aku amat mencintainya, melebihi diriku sendiri. Apakah baru saja aku bicara soal kematian? Apa aku sudah benar-benar siap untuk mati? Aku rasa aku sudah mulai gila...Terimakasih Tuhan...hidupku jadi penuh tanda tanya.
Tapi bagaimana menjawab semua pertanyaanku itu?